Kamis, 23 Oktober 2014
LUH KETUT SURYANI
 |
| http://www.dawn.com/news/755617/world-mental-health-day |
"Berjuang Menyikapi Kegelapan"
"Telah begitu lama mereka dengan gangguan jiwa berat dibiarkan tanpa penanganan." tutur Prof Dr dr Luh Ketut Suryani, SpKJ (K) (70).
Suryani menolak anggapan tentang ketidakpedulian keluarga pasien. "Uang mereka sudah habis setelah berulang kali ke balian dqn ke rumah sakit jiwa," jelasnya. "Masyarakat juga memprotess karena orasng dengan gangguan jiwa berat bisa mengamuk kapan pun. Akhirnya pihak dari keluarga melakukan yang terbaik menurut mereka agar bisa bekerja lagi."
Berdasarkan survei Suryani Institute for Mental Health (SIMH) diperkiralkan 7.000 orang di Bali mengalami gangguan jiwa berat, 300-an dipasung yaitu pada tahun 2008 di Kabupaten Karangasem, Kabupaten Buleleng, dan Kecamatan Denpasar Timur. Jumlah itu kemudian naik pada tahun 2010 menjadi 9.000 atau 2,3 per 1.000 penduduk. Kenaikan tersebut memang lebih rendah dari pada rata-rata nasional yaitu 4,6 per 1.000 penduduk atau sekitar satu juta orang.
Disangkal
Kenyataan muram disangkal dengan paparan foto dalam Pameran Foto Internasional di Denpasar beberapa waktu lalu yang berjudul "Terpasung di Pulau Surga: Air Mata Lensa, Membaca Mereka yang Terpasung" dijelaskan dalam foto tersebut seseorang yang sudah dipasung 20 tahun lamanya, ini ditunjukan sebagai penyadaran dan pendidikan.
Seluruh upaya Suryani berawal dari survei tentang bunuh diri, hasil survei tersebut menemukan adanya 10 kasus bunuh diri pada tahun 2005 yang jarang menggunakan tali. Namun, setelah bom Bali pada tahun 2006, ditemukan 180 kasus gantung diri.
Kebanyakan kasus bunuh diri disebabkan oleh gangguan jiwa berat. Penelitian Suryani dan tim yang memperlihatkan beban ekonomi sebagai penyebab utama. "Seperti digerakkan suatu kekuatan besar, orang berlomba menjual tanah untuk upacara yang megah. Dulu, ada kesadaran, para leluhur dan dewa menerima hanya yang datang dengan hati."
Berdasarkan penelitian doktoralnya, Suryani memperkirakan jumlah orang dengan gangguan jiwa adalah sekitar 50 orang, namun pada penelitian yang seharusnya memakan waktu 2 bulan tetapi molor sampai 10 bulan itu ditemukan 855 orang dengan gangguan jiwa berat di Karangasem, di Buleleng dan Denpasar ditemukan 120 orang dari 120.000 penduduk. Suryani juga menolak konstruksi kesehatan jiwa dalam teori-teori sempit dalam kerangka klinis, juga rumah sakit jiwa yang tidak menyelesaikan persoalan besar di balik fenomena gangguan kejiwaan. Menurut Suryani
Hospital based seharusnya sudah diganti dengan yang lebih efektif yaitu
Community based treatment, dan mengajarkan tanda-tanda dini kumat kepada keluarga, pasien dan masyarakat, memberikan obat seminimal karena pasti ada efek samping, kecuali dalam keadaan gawat.
Perjuangan keras
Upaya Suryani untuk mendapat perhatian pemerintah setelah melakukan survei ternyata dipandang sebelah mata "Mereka sebatas terkejut," ujar Suryani. Awalnya pemerintah Provinsi Bali memberikan dana bantuan sebesar 1 miliar yang digunakan oleh Suryani beserta tim untuk membantu 326 orang yang menderita ganguuan kejiwaan. Namun terjadi pemotongan dana hingga 90 persen yang disebabkan adanya protes dan komentar negatif karena upaya Suryani tersebut hanyalah mengajarkan nyanyi-nyanyi dan meditasi, sejak saat itu Suryani hanya dapat menangani yang penderita yang serius. Akibatnya pada 6 bulan setelahnya sebagian besar pasien kambuh.
Pengalaman itu justru membuat Suryani bangkit pada pertengahan tahun 2010, ia percaya dengan Tuhan dan leluhur akan selalu menyertainya. Suryani melanjutkan pengobatan gratis dengan subsidi silang dan sumbangan kolega di luar negri. Pada saat itu ada banyak warga yang butuh bantuan lalu berani menyampaikan kondisi keluarga mereka, berharap bantuan penanganan dan kesembuhan.
Dari 684 pasien yang ditangani, 37 persen sembuh tanpa obat, 62 persen membaik tetapi masih perlu obat dan 1 persen tak ada perubahan. Antara tahun 2012 sampa 2013 tersisa 536 pasien yang ditangani, hasil evaluasi yaitu 58 persen sembuh tanpa obat, 32 persen sembuh dan membaik dengan obat.
Kontraversial
Suryani dikenal sebagai sosok kontroversial. Ia berani melawan apa pun karena punya pijakan kuat yang didasari penelitian panjang. Metodenya yang dulu dicibir kini terjelaskan secara ilmiah, khususnya tentang bio-psiokospirit-sosio budaya dan hipnosis, yang sempat membuat dia dituduh sebagai dukun.